TANAH SEBAGAI SARANA SANITASI LINGKUNGAN

PENDAHULUAN

Tanah adalah tempat kita berpijak. Tanah ada di mana-mana. Ketika kalian ke luar rumah dan melihat pohon-pohon tumbuh di tepi jalan, juga cacing yang bergerak-gerak di antara bebatuan, kalian akan segera tahu bahwa makhluk-makhluk malang itu tidak akan dapat hidup tanpa tanah. Tanah merupakan alat vital yang menjadi habitat berbagai macam organisme. Tak hanya segelintir makhluk hidup, tetapi puluhan bahkan ratusan makhluk hidup bergantung padanya. Tanah membantu berbagai tumbuhan bernapas, makan, menghisap air, dan berbagai unsur hara yang membuatnya bertahan dari serangan penyakit. Intinya, tanah adalah media yang digunakan tumbuhan dan berbagai jenis mikroorganisme untuh hidup yang terbentuk dari pelapukan batuan.

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Definisi lain dari sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.[1] Sementara beberapa definisi lainnya menitik beratkan pada pemutusan mata rantai kuman dari sumber penularannya dan pengendalian lingkungan.

Tanah mengandung mikroba yang sangat besar baik jumlah maupun jenisnya. Mikroba dari tanah mempengaruhi flora mikroba dari udara, air, tanaman dan hewan. Sebaliknya, tanah dapat terkontaminasi oleh air buangan. Semua mikroorganisme penting yang berhubungan dengan penyakit-penyakit yang ditularkan lewat makanan dapat berasal dari tanah. Bakteri penyebab penyakit melalui makanan yang terdapat dalam tanah secara alamiah adalah Clostridium botulinum dan C. perfringens.
Tanah dapat masuk ke daerah persiapan/pengolahan makanan dan penyimpanan makanan dengan berbagai cara: melalui bahan makanan, pembungkusnya, pakaian dan sepatu pekerja, dan udara (debu).

PEMBAHASAN

Tanah sebagai sarana sanitasi berarti tanah ikut berperan sebagai agen untuk pemutusan rantai kuman untuk terciptanya pengendalian penyakit dan pengendalian lingkungan. Pencemaran tanah ini bisa terjadi kalau terdapat benda asing yang masuk ke dalam tanah sehingga mengurangi kualitas dan fungsi tanah. Pencemaran ini dapat terjadi akibat pembuangan limbah industri ke tanah, penggunaan pestisida, atau kebocoran limbah kimia industri. Sehingga bakteri yang baik bisa mati dan bisa juga bertumbuhnya bakteri baru yang lebih berbahaya. Agar tanah tetap sehat, harus menjaganya. Jangan sampai tanah kehilangan fungsinya gara-gara tercemar. Banyak sekali makhluk hidup yang bergantung padanya. Manusia pun pada akhirnya terkena imbasnya jika mencemari lingkungannya, misalnya timbul penyakit cacingan, sakit perut. Untuk sanitasi tanah dapat dilakukan dengan cara remediasi ataupun bioremediasi.

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.

KESIMPULAN

Setelah pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa polusi kimia, polusi biologis, dsb di tanah mengakibatkan tumbuhnya berbagai penyakit dan mikroba. namun untuk pencegahan penyakit itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan pemutusan rantai kuman dalam tanah, yang berupa remediasi dan bioremediasi

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Maman dkk. 2007. Intisari Biologi untuk SMA. Bandung: Pustaka Setia

http://ilmuthp.wordpress.com/serba-serbi/sanitasi/

http://kesehatan.kompasiana.com/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/