Makalah Pembentukan Pegunungan

MAKALAH GEOLOGI DASAR

PEMBENTUKAN GUNUNG DAN PEGUNUNGAN

MITOS ATAU ILMIAH-kah?

 

 

Disusun oleh :

Andreas Billy Graham Harianja

( H1F010039 )

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

JURUSAN TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

PURBALINGGA

2010

Kata Pengantar

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya makalah untuk mata kuliah Geologi Dasar ini dapat dibuat dengan tepat waktu, dan terima kasih untuk para-dosen pengampu Geologi dasar yang telah memberikan banyak pengetahuan kepada pembuat makalah ini, dan juga kepada orang tua penulis yang telah memberi banyak dukungan spiritual dan material.

Sebagai bahan tugas terstruktur pembuat makalah ini mendapat topik adalah “pembentukan pegunungan”, yang mana dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis makalah ini,  dan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Purbalingga,

Andreas Billy Graham Harianja

Pembahasan

A. Analisis masalah.

Dongeng, atau Ilmiah kah?.

Bumi ini tidak diam, dan ini menjadi sangat bertentangan dengan para pemikiran tokoh-tokoh pada zaman dahulu. Bahkan para ilmuwan mengatakan bahwa gunung-gunung, lautan-lautan, daratan-daratan adalah tetap, karena bentuknya yang padat seperti batuan yang mereka kenal selama ini. Namun pada awal tahun 1960-an, para ahli Geologi pada saat itu mulai menganggap bumi ini tidak diam!. Dan orang sampai kepada penemuan misteri yang besar yaitu bertambah tingginya puncak Himalaya, apakah yang terjadi? Mengapa bisa seperti itu? Begitu juga dengan halnya rangkaian pegunungan yang terdapat di pulau Sumatera dan pulau Jawa, banyak orang yang bertanya apakah yang terjadi dengan daratan di pulau-pulau tersebut? Mengapa daratan-daratan tersebut bisa membentuk suatu lengkungan atau garis-garis yang bahkan saling sambung menyambung?. Bencana yang ditimbulkan oleh gunung tersebut juga banyak, seperti contoh yang terjadi pada gunung Merapi akhir-akhir ini yang adalah daratan yang kokoh kuat, namun ketika ‘marah” sangat dahsyat sekali. Orang bertanya, kenapa tidak gunung yang lain saja yang meletus? Kenapa harus gunung merapi inmi yang meletus? Apakah kemarahan dan pembetukan ini ada halnya dengan mistis-mistis yang sudah dikenal sebelumnya?

Ada sebuah cerita rakyat yang terkenal, yaitu pembentukan gunung Tangkuban Perahu di Jawa barat seperti ini cuplikannya:

“Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh           pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling      satu      lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati.       Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi           seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua  harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia           berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat           datangnya pagi.Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah     dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke          tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung       Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub)”.

Dengan cerita seperti itu orang banyak di”nina-bobokan” dengan cerita-cerita seperti itu, dan pada akhirnya setiap orang ingin sekali membuat suatu cara untuk mengetahui pertanyaan mengapa gunung tersebut itu ada, dan mengapa harus didaerah mereka gunung “berbahaya” itu terbentuk, mengapa gunung tersebut dapat “berjalan” dan lagi bagaimana gunung-gunung tersebut terbentuk. Maka dari itu dengan peradaban manusia yang sudah tidak percaya mitos-mitos tersebut, yang pada akhirnya ditambah dengan peralatan-peralatan teknologi yang canggih, maka hasilnya adalah manusia semakin mengerti dengan apakah gunung-gunung tersebut berdiri diatas muka bumi ini.

B. Lahirnya gunung

Seperti yang kita ketahui pembentukan gunung tidak lepas dengan pergerakan lempeng itu sendiri, seperti yang kita ketahui lempeng-lempeng tersebut bisa saling bertemu, yang masing-masing lempeng tersebut bila bertemu dapat berupa konvergen-dimana lempeng-lempeng bergerak saling menjauhi satu sama lain, mengakibatkan material dan selubung naik keatas-, dan juga ada konvergen-dimana lempeng-lempeng bertemu, menyebabkan salah satu lempeng menyusup dibawah yang lain-, dan yang terakhir adalah transform-yang mana lempeng-lempeng tersebut saling berpapasan. Begitu juga dengan peristiwa subduksi yang terkenal hebat itu karena bisa membuat suatu gunung.

Gunung terjadi karena adanya proses gaya tektonik yang bekerja dalam bumi yang disebut dengan orogenesis dan epeirogenesis. Dalam proses orogenesis ini sedimen yang terkumpul menjadi berubah bentuk karena mendapat gaya tekan dari tumbukan lempeng tektonik.  Tumbukan lempeng lautan dan benua menimbulkan deposit sedimen laut terhadap tepi lempeng benua. Tumbukan lempeng benua dengan benua merupakan proses pembentukan sistem pegunungan Himalaya dan Ural.

Suatu pergerakan lempeng tektonis yang sangat cepat meliputi wilayah yang sempit. Tektonis Orogenesa merupakan proses pembentukan gunung atau pegungungan akibat adanya tabrakan lempeng benua, tabrakan sesarbawah benua dengan lempeng samudra, perkahan kontinen, pergeseran punggung samudra dengan benua. Tektonis Orogenesa biasanya disertaiproses perlengkungan (warping), lipatan (faulting), patahan (folding), retakan (jointing).

Gunungapi terbentuk sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Pengetahuan tentang gunung (gunung api) berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang mempunyai hubungan dekat dengan gunung (gunung api). Hal tersebut diketahui dari penemuan fosil manusia di dalam endapan vulkanik dansebagian besar penemuan fosil itu ditemukan di Afrika dan Indonesia berupa tulang belulangmanusia yang terkubur oleh endapan vulkanik. Sebagai contoh banyak ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum yang terkubur oleh endapan letusan G. Vesuvius pada 79 Masehi. Fosil yang terawetkan baik pada abu vulkanik berupa tapak kaki manusia Australopithecus berumur 3,7 juta tahun di daerah Laetoli, Afrika Timur. Penanggalan fosil dari kerangka manusia tertua, Homo babilis berdasarkan potassium-argon (K-Ar) didapat umur 1,75 juta tahun di daerah Olduvai.Penemuan fosil yang diduga sebagai manusia pemula Australopithecus afarensis berumur 3,5juta tahun di Hadar, Ethiopia, dan penanggalan umur benda purbakala tertua yang terbuat darilava berumur 2,5 juta tahun ditemukan di Danau Turkana, Afrika Timur. Perkembangan benda-benda purba dari yang sederhana kemudian meningkat menjadi benda-benda yang disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti pemotong, kapak tangan dan lainnya, terbuat dariobsidian yang berumur Paleolitik Atas.

B. 1. Terbetuknya Gunung dan Pegunungan karena Subduksi.

Zona subduksi adalah zona penunjaman yang ditandai oleh adanya gunung berapi, tetapi letusannya berbeda dengan dengan gunung api di zona divergen. Gunung berapi yang terdapat di zona subduksi, terbentuk karena mantel dibawahnya meleleh sebagai hasil dari subduksi. Lapisan batuan beku basa dari lantai samudera mendingin saat mulai menunjam, tetapi lapisan ini terpanasi secara perlahan-lahan ssaat menyusup dalam mantel. Pertama-tama sedimen yang mengumpul di bagian atas lapisan beku basa -lumpur dan pasir lantaui samudera- memanas. Sedimen-sedimen ini berisi air dan mineral-mineral seperti kalsium karbonat(batu kapur). Ketika memanas, sedimen-sedimen mengering, melepaskan air dan komponen-komponen lainnya yang mudah menguap, seperti karbon dioksida, ke dalam mantel. Sedimen-sedimen mengubah komposisi mantel, sehingga mulai meleleh pada temperatur dan tekanan dimana mantel yang normal akan stabil sebagai sebuah padatan pada temperatur dan tekanan tersebut. Gunung-gunung berapi di zona subduksi dihaslikan dari pelelehan ini.

Magma cair merembes naik melalui mantel dan terakumulasi di kera. Namun karena kerak dan benua lebih tebal daripada samudera, magama akan bergerak keatas lebih lama pada zona subduksi daripada di pematang tengah samnudera. Magama juga lebih lama berada di dalam kerak benua yang lebih tebal.

Kedua pengaruh ini dapat mengubah sifat kimia, menghasilkan batuan dan silika dan oksigen yang lebih kental dibandinbg batuan beku basa di samuedra. Magma ini lebih kental -beberapa dari magma hampir tidak mengalir, sekali-kali meletus. Akibatnya magma-magma ini membentuk kubah lava.

Kekentantalan magma bertanggung jawab atas sifat mnerusak yang dimilii oleh gunung api di zona subduksi. Karena lebih kental, magma dapat memberikan tekanan yang lebih besar sebelum meletus sehingga saat meletus akan menghasilkan ledakan. Ledakan yang dahsyat meledakan batuan lelehan dan batuan padat menjadi serpihan serpihan kecil, yang jatuh sebagai debu, atau menghasilkan awan debu yang dapat mencapai stratosfer dan dapat menyebar ke seluruh dunia.

gambar: subduksi pada umumnya

gambar: subduksi di pegunungan di Indonesia

Berikut adalah penjelasan gambar tersebut:

1.Lempeng samudera dan lempeng samudera tabrakan.

2.Lempeng samudera masuk ke astenosfir menembus lempeng benua.

3.Sedimen dan air melebur/partial melting.

4.Terbentuk magma andesit.

5.Magma naik keatas.

6.Magma mendorong batuan dan menguapkan benda-benda diatasnya.

7.Terbentuklah gunung atau pegunungan.

8.Magma ingin keluar dari dapur magma.

9.Ada magma yang membeku di kerak benua.

10.Ada magma yang naik ke atas dan membeku di permukaan bumi.

Gunung-gunung yang terjadi berdasar subduksi adalah :

1.Gunung Andes, Amerika Selatan

2.Gunung St. Helens, Amerika Selatan

3.Gunung Sinabung, Indonesia

4.Gunung Merapi, Indonesia

5.Gunung…..

B. 2. Terbentuknya Gunung dan Pegunungan di Daerah Divergen.

Gunung api yang terbentuk dimana kerak salingh memisah dapat menghasilkan lava yang mengalir dengan cepat. Gunung berapi tidak meletus dengan kerusakan besa, tetapi mengahasilkan aliran lava yang panas dan cair. Hali ini dikarenakan kandungan silika dan oksigen dalam batuan lebih sedikit sehingga lava menjadi cair. Sebagai akibatnya, tipe lava ini ada pada temperatur 1.000oC begerak menembus tanah sekitar 60 kph, merobohkan atau melewati rintangan-rintangan yang menghalangi jalannya. Hal ini sangat berbahaya. Lava cair sama densitasnya dengan batuan. Gunung berapi yang muncul pada tipe-tipe batas lempeng yang lain menghasilkan lava batuan beku basa yang mengalir pada 10 kph atau kurang dari itu cukup lambat sehingga penduduk dapat menimbulkan rumah-rumah yang berada di lintasan lava.

gambar: pembentukan gunung di daerah divergen.

B. 3. Terbentuknya Gunung dan Pegunungan antara lempeng sejenis.

B.3.1 Tumbukan antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.

Bila dua lempeng samudera bertumbukan, maka salah satu akan menyusup di bawah yang satunya. Dan akan terjadi peleburan akibat panas, sehingga memunculkan peristiwa alam yang berupa gunung dan sampai kepada gunung api. Namun untuk gunung api ini, seringkali dijumpai di daerah kerak samudera saja, tetapi bila hasil yang dihasilkan sampai menyentuh permukaan laut bahkan menjulang sampai tinggi sekali, maka hasilnya adalah terbentuknya gunung yang berbaris, sehingga berbentuk seperti busur kepulauan. Dan seringkali ditemukan di jarak beberapa ratus meter setelah palung tersebut itu ada.

gambar: pegunungan gunung api antara lempeng samudera dan lempeng samudera.

B.3.2. Tumbukan antara lempeng benua dan lempeng benua.

Peristiwa yang terkenal akan hal ini adalah peristiwa bersatunya India ke benua Asia yang menjadi pegunungan Himalaya.

Puncak Himalaya ini tampaknya padat dan tidak bergerak, tetapi sesungguhnya, gunung ini, seperti halnya keseluruhan pegunungan Himalaya, suatu waktu pernah merupakan lapisan kerak benua yang rendah. Antara 10 dan 20 juta tahun yang lalu anak benua India bertumbukan dengan benua asia, menyebabkan lapisan kerak melengkung, terlipat, dan naik dibawah pengaruh gaya yang besar sekali. Himalaya merupakan rangkaian pegunungan terbesar didunia

C. Bentuk-bentuk gunung api.

Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, maka gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi:
(1) Tipe Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburanlava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundansederhana;
(2) Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburanlava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benuaatau di tengah benua;
(3) Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magmaberviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar;
(4) Tipe Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkankubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit;

(5) Tipe Ultra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa;

6) Tipe Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampaidasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan seringdisertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik;
(7) Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunung api, gunung api bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik. Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas : bentuk kerucut, dibentuk oleh endapanpiroklastik atau lava atau keduanya; bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah,membentuk seperti kubah; kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria; maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik; plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.

Gambar: tipe-tipe bentuk gunung api.

KESIMPULAN

            Sehubungan dengan telah dibahasnya penjelasan mengenai pembentukan gunung,pegunungan diatas. Maka dapat disimpulkan bahwa terbentuknya gunung bukanlah suatu mitos atau tahayul. Melainkan terbentuk secara ilmiah.

Setelah dibahasjuga, bahwa terbentuknya gunung, pegunungan tersebut adalah secara orogenesa, yang mana oro adalah gunung, genesa adalah lahir. Maka gunung atau pegunungan tersebut terbentuk bisa secara tektonik juga, yaitu dimana setiap lempeng akan bertumbukan atau menjauh. Sehingga bisa terbentuklah gunung atau pegunungan sampai sekarang ini. Dan sebagaimana kita amati melalui Himalaya, yang mana kita dapat melihat bahwa Himalaya selalu bertumbuh walau dalam hal yang lambat, ini diakibatkan bahwa gunung tersebut lahir secara lama ataumembutuhkan waktu yang lama bukan suatu kejadian yang cepat.

Dan pula banyak sekali bentuk dari gunung-gunung itu sendiri, yang mana bisa berbentuk kerucut, landai,atau yang lainnya.

Daftar Pustaka

Sapiee, Benjamin dkk. Catatan Kuliah Geologi Fisik. Bandung: ITB.

Bowler, Sue.2002. Bumi Yang Gelisah.Jakarta: Erlangga.

Endarto, Danang. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: UNS Press.

http://bayu-rahadi.blogspot.com/2008/12/pengenalan-gunung-api.html

geoce-ria.netau.net/ria2.html\